Puisi

Kamis, 17 November 2016

PUSANG DARI RESTU IBU MU

langit malam ku pandang jenuh

air hujan ku lihat keruh

pemompa nadi ku srasa kan runtuh karna hati yg tlah rapuh,

mengingat mu bak trasa pahit di bibir

namun sayang di hati bak trasa manis di nadi

aku tak salah kan kau, namun hati ku pusang dari restu ibu mu

serasa hidup kita ingin ku pindah kan ke alam mimpi yang slalu kau bibiri

sakit ini menyiksa kau dan aku yang entah kapan berakhir pun ku tk tau

yang bisa ku harap kan hanya kau dan aku bisa lewat kan masa tragis sadis yang sering kali buat kau 

dan aku MENANGIS.
                                                                                                Karya : Azman Putra

Jumat, 04 November 2016


Aku tulis pamplet ini

karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !